Jumat, 03 April 2009

Nggak Kuat??? (1 Petrus 1 : 3-9)

Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

(1 Petrus 1 : 7)



Guys… pernah ngalami masalah kan? (hehehe kayaknya ga perlu dijawab tapi udah tau jawabannya kan!) tapi kadang kita harus ngerti sesuatu. Apaan ya ? ehm…. Saat kita ngalami suatu masalah, yang harus kita sadari adalah masalah itu disebabkan oleh kesalahan kita atau tidak? Kalo masalah yang kita harus hadapi karena kesalahan kita, ya berarti itu konsekuensi dari perbuatan kita. Tapi kalo masalah yang kita hadapi adalah masalah yang bukan hasil kesalahan kita, itu artinya Tuhan punya sesuatu or rencana yang indah di balik masalah itu.

“ Aku udah doa tapi kok sepertinya Tuhan ga jawab ya? sering banget perkataan ini yang keluar dari mulut kita saat kita ngalami masalah. Ehm…. Yang salah dimana ya? Bukan perkara salah siapa or apa, tapi seringkali cara berpikir kita yang harus berubah. Sering banget kita berpikir kalo kita berharap sesuatu en kita doa ke Tuhan trus pengennya langsung saat itu juga Tuhan jawab doa kita. But.. beda dengan apa yang Tuhan mau, seringkali Tuhan ijinkan permasalah terjadi untuk membentuk kita. Saat kita berdoa en sepertinya Tuhan ga' peduli, tetapi sebenarnya Tuhan sangat memperhatikan kita en udah menjawab doa kita, namun Tuhan pengen agar kita sabar menanti waktunya Tuhan. Nah… saat menanti waktunya Tuhan, itu adalah waktunya pembuktian iman kita. Kadang dalam hati kita muncul kata – kata “ Tuhan aku nggak kuat!?!” namun jangan nyerah!tetep percayalah bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik buat setiap kita.(*/Ngi)

Kamis, 08 Januari 2009

Let Me Love You Until Finish


Bulan september 2008 it's a month of gift, my speciall month. Setelah hampir 1 tahun kubergumul dengan permasalahan keluargaku :( sejak pertengahan tahun 2006 satu persatu masalah mendatangi. Mulai dari masalah finansial sampe masalah adekku. Saat itu aku cuman bisa berserah ke Tuhan, sebagai anak cowok yang sulung hal ini cukup membuatku bingung dan ga tau harus berbuat apa. Saat itu akhir 2006 aku ga ngerti harus ngapain. Selain usaha yang dijalani oleh ayahku gagal, dan uang sekian juta habis begitu aja. Usaha keduapun dilakukan oleh ayah en adekku untuk memperbaiki finansial keluarga di taon 2007. Awalnya menjanjikan... tapi waktu berjalan dengan cepat.. apa yang tidak diduga-duga terjadi begitu aja, usaha yang keduapun gagal :( hiks...hiks... belum lagi masalah yg ditimbulkan adekku yg membuat keluarga harus bertanggung jawab. Awalnya kusalahkan diriku sendiri, knapa masalah-masalah ni bisa terjadi? jujur aku ga kuat secara manusia.... secara finansial keluargaku hampr tidak ada pemasukan secara rutin :( tapi aku inget kalo ada BAPA di Surga yang ga akan pernah meninggalkanku en terus pelihara keluargaku sehingga keyakinan ini yang bikin aku untuk terus berharap en ga mau nyerah pada keadaan ini. Puji Tuhan justru dengan adanya masalah demi masalah yang kami alami membuat kami semakin dekat satu dengan yang laen (antara Ayah, ibu , aku dan adekku). Thanx JESUS buat semua yang udah terjadi. Sekalipun tidak ada uang di dompet, tapi kami ga pernah dibiarkan kelaparan.
Bulan April 2007 pertengahan, aku diperhadapkan pada sebuah pilihan yaitu apakah aku harus stay di Malang (kotaku tercinta) or aku pergi ke Surabaya (kota yang sempat aku benci sebelumnya). Jika aku pergi itu artinya untuk sementara waktu aku pergi dari keluargaku, dan hari - hari kulalui sendiri tanpa ada keluarga yang ada disisiku :( sedih iya! jauh dari keluarga dan aku harus berjuang sendiri. Setelah berdoa 2 minggu akhirnya aku putuskan untuk meninggalkan kota Malang yang 23 tahun kulalui disana. Dengan keputusanku pergi ke Surabaya, tepat tanggal 18 Mei 2007 akku berangkat ke Surabaya. Disini Tuhan membawaku pada level hidup mandiri, semua ku kerjakan ,kuatur sendiri dan setiap masalah kuhadapi sendiri. Pada awalnya berat namun karena begitu luar biasanya Tuhan Yesus, so aku bisa bertahan itu semua karna kasih karuniaNya.
Mei 2008, setahun sudah aku di kota yang penuh dengan polusi ini.... aku belajar untuk mencintai kota ini. Namun tetep kota Malang selalu di hatiku. Setelah melalui 1 tahun telah kulakukan komitmenku pada Tuhan untuk fokus pada kerjaanku, masuklah aku pada hitungan mundur tahun kedua di Surabaya. Permasalahan keluargaku belumlah usai, namun aku salut dengan Bapak, Ibu dan Adekku. Sekalipun hari - hari yang dilaluinya cukup berat, namun senyuman selalu ada di wajah dan semangat merekalah yang membuatku lebih bersemangat untuk terus percaya pada rancangan Tuhan atas keluarga dan pribadiku.
Bulan demi bulan kulalui, dan sampailah aku di bulan September yang bagi aku adalah bulan instropeksi diri. Why? coz di bulan Septemberlah usiaku bertambah namun waktuku hidup di dunia ini berkurang. Awalnya aku berpikir ga ada yang istmewa, namun ada kejutan yang dibikin temen2 pas hari ulang tahunku, yaitu bertepatan dengan tanggal ultah-ku diadain KKR youth yg di GSJA Immanuel Wiyung - Surabaya, wah tenkyu ya temen2. Ada kejutan yang luar biasa dari Tuhan buat aku, 1 masalah keluargaku Tuhan telah selesaikan dan beri jalan keluarnya. JESUS thank you so much for everythings..... Keluarga adalah salah satu hadiah istimewa sepanjang hidupku (hadiah pertama adalah YESUS KRISTUS). Makasih banyak Tuhan udah memprosesku sedemikian hingga. Father in heaven...let me love you until finish....

Rabu, 03 Desember 2008

Cinta kok… (1 Korintus 13:4–8)

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.”

(1 Korintus 13:4)

Boomers.. pernah ngalamin yang namanya jatuh cinta.? Ya ato iya, hayooo?! Namanya juga manusia, wajar dunk naksir seseorang. Yup... wajar banget kalo kita suka or lagi naksir seseorang. Eiiits… tunggu dulu boz! Jangan keburu menyatakan perasaanmu ke doi. Lho kok bisa? Ehm.. ada banyak hal yang harus kita ngerti, sebelum melangkah ke arah hubungan yang lebih dalam lagi. Pernahkah Boomers berpikir, ada perbedaan antara cinta (asmara) dengan kasih ? Yup... ada perbedaan yang mendasar (kalo mau lebih jelas baca More Than Words tuh!) .

Coba perhatiin temen – temenmu! Ada banyak orang, begitu mudahnya gonta – ganti pacar. Ehm... apakah gaya pacaran mereka bisa disebut ‘cinta’ pada pacarnya? Buat cowok – cowok sih gak terlalu sakit hati, tapi gimana dengan ceweknya? Buat yang ngerasa cowok, perhatikan ya! Seorang cowok dinilai dari tiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Artinya, apakah perkataannya dibuktikan dengan tindakan, ato cuman ngomong doank! Nah looo... Jangan bilang, “aku cinta kamu” kalo kamu belom yakin dengan perasaanmu or kamu yakin bakalan menikah dengan dia.

Terlalu banyak cewek yang dilukai, karena dengan mudahnya cowok bilang “aku cinta kamu”. Tapi saat ada masalah sedikit (misal nih...perbedaan pendapat or terjadi gesekan), akhirnya putus. Hem… apakah itu bisa dibilang kasih? Boomers, kata cinta tuh gak bisa seenaknya aja diucapkan. Tapi, perlu yang namanya pendekatan, pemahaman dan penerimaan antar pribadi. Kenali dulu perasaanmu! Tenang aja…kalo yang kamu rasain tuh true love, udah pasti akan teruji oleh waktu. Bawa terus dalam doa, minta Bokap JC untuk memurnikan. Inget! PACARAN adalah masa persiapan menuju pernikahan! (*/Ngi)

Think 1’ : Jawab dengan jujur di hadapan Bokap JC : Apakah kamu udah siap nikah?

Words : Bokap JC yang akan mempertemukan dengan pasangan, saat dilihat-NYA kita sudah siap!

CHRISTIAN BAND

1. Demon Hunter

2. August Burns Red

3. mewithoutYou

4. The Devil Wears Prada

5. Disciple

6. Kutless

7. Third Day

8. As Cities Burn

9. Jeremy Camp

10. Haste The Day

11. Project 86

12. Skillet

13. Seventh Day Slumber

14. Jars Of Clay

15. Underoath

16. Thousand Foot Krutch

17. Showbread

18. The Chariot

19. Anberlin

20. Relient K

21. David Crowder Band

22. Falling Up

23. Five Iron Frenzy

24. Everyday Sunday

25. Sanctus Real

26. As I Lay Dying

27. Casting Crowns

28. Pillar

29. Emery

30. Audio Adrenaline

31. Superchick

32. The Showdown

33. Newsboys

34. Becoming The Archetype

35. Switchfoot

36. Blindside

37. Norma Jean (formerly Luti-Kriss)

38. Nevertheless

39. Hawk Nelson

40. The Wedding

Kamis, 19 Juni 2008

Air Dapat Menghemat Pemakaian Bahan Bakar


Joko Sutrisno, warga Pakuncen Yogyakarta yang menemukan cara menghemat bahan bakar dengan memanfaatkan air suling dan Kalium Hidroksida sebagai katalisator melalui proses elektrolisa. Joko sedang menunjukkan 'khasiat' hidrogen dengan alat semacam reaktor hidrogen di Jakarta, Kamis (19/6).
Kamis, 19 Juni 2008 | 13:49 WIB

JAKARTA,KAMIS - Tingginya potensi tenaga ledakan yang dapat dihasilkan oleh hidrogen menunjukkan betapa hidrogen memiliki potensi yang besar pula untuk menggerakkan mesin mobil atau motor. Dengan tarikan sedikit saja, mesin sudah bisa meluncur dengan cepat.

Belum lagi fakta bahwa tarikan yang sedikit membuat bahan bakar yang digunakan makin sedikit. Maka bukan hal yang gendeng jika Joko Sutrisno, warga Pakuncen Yogyakarta menggabungkan air dengan bahan bakar bensin ataupun solar untuk menghemat pemakaian bahan bakar. Berbekal air suling, Kalium Hidroksida (KOH), dan beberapa alat, Joko yakin dapat menghemat pemakaian bahan bakar hampir 80 persen.

"Bahan peledak bensin jika ditambah hidrogen, daya ledaknya jadi luar biasa. Pedal nggak usah kuat-kuat ditekan, kecepatannya sudah sama. Tentu saja berpengaruh ke sedotan bensin oleh mesin," ujar Joko ketika ditemui Kompas.com di Hotel Maharaja, Jakarta, Kamis (19/6). Dalam demo yang dilakukannya di depan Kompas.com di halaman parkir Hotel Maharaja, Joko menunjukkan 'khasiat' hidrogen dalam menghasilkan ledakan dan daya dorong pada potongan mesin motor.

Hasilnya, dahsyat. Ledakannya cukup kuat dan dorongannya sangat cepat. Ledakan yang kuat dan dorongan yang sangat cepat itu sebenarnya dihasilkan oleh hidrogen yang telah terperangkap dalam air sabun pada demo ini. Begitu pula yang akan terjadi pada mesin mobil misalnya.

Campuran air suling dan KOH yang diberi listrik akan memisahkan gas hidrogen dan oksigen. Kemudian gas hidrogen dialirkan ke manipol sehingga bertemu dengan gas dari bensin atau solar yang sudah dibakar. Kemudian campuran kedua gas ini akan masuk ke piston dan diledakkan oleh busi sebagai pemantiknya.

"Air yang harus digunakan harus air suling, biasanya Aquades atau air hujan sekalian. Perbandingannya, satu liter air, ditambah kira-kira tiga gram KOH," ujar Joko. Campuran air suling dan KOH memang memerlukan tempat khusus sehingga Joko membuat tabung-tabung sederhana yang telah dirakit dengan alat-alat lain, seperti elektroda.

Untuk mobil, tabungnya berbentuk botol aki yang berbentuk kotak, sedangkan untuk motor, tabungnya berbentuk tabung botol kecap yang biasa ditemui di rumah-rumah makan.

"Tabungnya harus dari plastik tapi jangan tebal supaya kalau terjadi ledakan tidak terlalu berbahaya," ujar Joko. Resiko ledakan sama sekali tidak menimbulkan api dan panas karena memang begitulah sifat hidrogen. Selain itu, ledakan juga selalu mengarah ke atas, bukan ke samping sehingga memperkecil resiko merusak habis tabung tersebut.

Demo yang dilakukan Joko Sutrisno dilakukan hampir bersamaan dengan demo yang juga dilakukan Djoko Suprapto di Nganjuk, Jawa Timur. Teknologi yang diperlihatkan keduanya ternyata mirip, bukan mengubah menjadi bahan bakar, melainkan hanya menggunakan air untuk menghemat penggunaan bahan bakar.

SUMBER : WWW.KOMPAS.COM

Kamu Pria yang baik, Tapi.....

Randy telah memperhatikan Sarah selama beberapa bulan. Senyumnya dan kebaikannya kepada semua orang sangat menarik. Dalam kelompok para lajang, mereka tertawa pada saat yang hampir bersamaan dan kadang berpandangan. Randy juga menemukan bahwa ternyata mereka sama-sama menyukai kegiatan outdoor dan seni. Randy melihat Sarah adalah gadis yang tepat untuknya. Bahkan teman-temannya melihat mereka cocok dan mendukungnya untuk mendekati Sarah. Dan sore itu, Randy mengundang Sarah untuk makan bersamanya di satu kafe. Dia datang lebih dulu untuk memastikan meja di sudut yang agak sepi agar mereka bisa bercakap-cakap tanpa terganggu. Sarah muncul dengan senyumnya seperti biasa.

Setelah beberapa percakapan wajar, Randy menelan ludah dan mulai mengucapkannya, kata-kata yang dipilih dengan hati-hati, tidak terlalu romantis juga tidak terlalu biasa. "Aku suka sikapmu yang ramah. Aku melihat kita mempunyai banyak kesamaan dan bersenang-senang bersama. Aku ingin mengenalmu lebih dalam..." Sarah terdiam beberapa saat. Bukan tanda yang baik, namun Randy berharap Sarah hanya sedang berpikir untuk memberikan respon yang tepat. Sarah tersenyum, Randy menebak-nebak. "Randy," katanya, sambil menatap tepat di mata, "Terima kasih, aku tersanjung. Kamu mempunyai banyak kualitas yang mengagumkan..." Jeda yang hening setelah itu mengatakan pada Randy hampir semua yang dia perlu tahu. Dia bisa menebak kata-kata selanjutnya, kata-kata seperti, "Kamu pria yang baik, tapi..." T-a-p-i.

"Aku merasa nyaman di dekatmu," lanjut Sarah. "Dan kamu salah satu orang favoritku. Aku hanya tidak merasa kita harus berkencan." Banyak pria pernah mendengar perkataan seperti ucapan Sarah, dan banyak wanita telah mengatakan hal yang serupa seperti yang dikatakan Sarah. Terkadang memang sudah jelas bahwa hubungan yang diinginkan tidak akan pernah terjadi. Mungkin si wanita menutup pintu secara langsung dengan menampilkan ketertarikan kepada orang lain atau menolak ajakan untuk saling mengenal lebih dalam. Tapi seringkali, perkataan seperti itu membuat pria kebingungan. Kata-kata dari si wanita terlihat menunjukkan ketertarikan tapi di waktu yang sama menyatakan hal yang sebaliknya, sehingga pria seringkali menjadi tidak tahu apakah dia harus menyerah atau mencoba lagi.

Membaca Sinyal

Dalam cerita Randy dan Sarah, Sarah menggunakan beberapa pernyataan yang "menyesatkan": "Aku merasa nyaman di dekatmu" dan "kamu salah satu orang favoritku", Randy mungkin berpikir, Jika aku adalah salah satu orang favoritmu, lalu bagaimana mungkin kamu tidak tertarik?

Kesalahpahaman ini muncul dari perbedaan mendasar antara perspektif pria dan wanita dalam hubungan romantis. Teman-teman pria saya mengatakan bahwa daya tarik fisik mempunyai peranan besar dalam keputusan mereka untuk mengejar seorang wanita. Seorang wanita mungkin mempunyai banyak karakter bagus yang menambah kecantikan luarnya, tapi pria-pria yang saya tahu tidak akan membuat usaha untuk mendekati dia kecuali mereka tertarik secara keseluruhan. Wanita, di lain sisi, bisa mengalami ketertarikan sebagian. Dia mungkin tidak tertarik secara romantis kepada seorang pria, tapi masih tetap menemukan dirinya tertarik kepada pria ini dalam beberapa hal. Dia bisa tertarik kepada beberapa aspek dari karakter atau kepribadiannya, tapi semua itu tidak menambah ketertarikannya secara romantis kepada pria ini. Ini membuat dia berkata seperti, "Aku suka hal-hal ini tentangmu, tapi aku tidak menyukaimu secara khusus..." Seorang wanita juga membuat pernyataan yang bermaksud menyemangati seorang pria yang dia hormati. "Kami sangat menghargai saat pria mengambil inisiatif, tapi kecenderungan feminin kami membuat kami terdorong untuk menyemangati dan mendukung..."

Kemungkinan ketiga (dan ini yang diharapkan para pria) adalah bahwa si wanita hanya takut menjalin hubungan atau merasa tidak siap. Dalam kasus ini, siapa pria yang mendekati si wanita bukanlah inti persoalannya. Kondisi emosional si wanita akan membuat dia menolak atau menghindari pria manapun.

Jadi bagaimana seorang pria dapat melalui area ketidakpastian ini, dan bagaimana seorang wanita benar-benar mengatakan apa yang sebenarnya dia maksudkan? Mari memulai dengan wanita.

Katakan tidak dengan tidak. Para wanita, mengertilah bahwa penolakan yang pura-pura itu bukanlah penolakan dengan kasih. Dan kenyataannya, keinginan Anda untuk menjadi cheerleader mungkin dimotivasi oleh harga diri, bukan kasih. Tahun lalu seorang teman pria saya mengkonfrontasi saya tentang hal ini. Dia mendengar saya bercerita kepada teman wanita saya tentang kata-kata yang saya ucapkan untuk menolak seorang pria. "Aku hanya ingin menghargai dia karena dia telah berani mengambil resiko," kata saya. Teman pria saya bertanya, "Memangnya dia seekor anjing yang butuh dikatai "anjing yang baik" dan sebuah tepukan di kepala?" Dengan segera saya menyadari motif egois saya, saya sedang berusaha membuat diri saya terlihat seperti pahlawan.

Para wanita, ingat ini: memang pria itu telah mengambil resiko, dan tidak salah untuk berterimakasih padanya karena itu. Tapi Anda tidak sedang menghargai dia dengan menggunakan kata-kata yang menyampaikan pesan berbeda dari apa yang sebenarnya Anda maksudkan. Biarkan teman-temannya, pembimbing rohaninya, atau pasangannya di masa depan yang meyakinkan dia akan karakter positifnya dan hal-hal yang disukai orang darinya. Itu bukan tanggung jawab Anda, dan kata-kata sanjungan Anda hanya akan membuatnya bingung. Juga, hindari pernyataan persetujuan seperti, "Kamu begitu sempurna". Dari sudut pandangnya, jika dia sempurna, tentu Anda akan mau menjalin hubungan dengannya. Dan jika Tuhan mengkonfirmasi bahwa dia bukan pria yang tepat ("sempurna") untuk Anda, maka pernyataan seperti itu tidak tulus.

Buatlah keputusan yang tegas. Ketertarikan sebagian hanya akan membuat Anda tidak serius dalam hal menanggapi kasih sayang dari seseorang yang Anda kira bukan yang terbaik dari Tuhan untuk Anda. Jika Anda merasa hati Anda tertarik pada seseorang yang pernah mendekati Anda di masa lalu -seseorang yang pernah Anda tolak- tentukan waktu serius agar Anda dapat berdoa untuk hubungan itu. Mungkin Tuhan sedang mengubah hati Anda. Tapi jika Anda menemukan bahwa perasaan Anda belum berubah, jangan memanfaatkan ketertarikan pria itu kepada Anda. Filipi 2:3 mengingatkan kita, "dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri."

Untuk Para Pria


Mungkin seperti Randy, Anda telah mendengar, "Kamu pria yang baik, tapi..." Lalu apa? Setelah pembicaraan saya dengan beberapa teman pria, saya menemukan mereka lebih mendengarkan pernyataan yang mengatakan, "Kamu hebat", "Aku menghargai kamu" atau "Aku merasa nyaman bersamamu", daripada jawaban yang sebenarnya ("tidak").

Terima penolakannya dengan lapang hati. Dalam kebanyakan kasus, wanita mengatakan "tidak" karena dia tidak tertarik secara romantis kepada Anda. Mengertilah bahwa dia berada dalam posisi yang sulit dengan seolah-olah menjadi pihak antagonis, jadi dia berusaha untuk membuat penolakannya sehalus mungkin.

Beberapa tahun lalu, saya mengenal seorang pria Kristen yang saya hormati. Seiring dengan persahabatan kami yang makin dekat, saya menyadari bahwa saya tidak tertarik secara romantis kepadanya. Saat saya mengatakan ini kepadanya, dia kecewa tapi merespon dengan berkata bahwa dia mempercayai keputusan saya karena dia tahu saya mencari kehendak Tuhan. Dia berhenti mendekati saya, tapi saya menerima email bersahabat atau telpon sesekali darinya. Kurang dari setahun kemudian, dia bertemu dengan istrinya, Kara. Saya selalu mengagumi cara dia melepaskan kedekatan kami sebelumnya. Tindakannya itu meletakkan dia pada posisi ideal untuk menerima seorang istri yang telah Tuhan siapkan untuk dia.

Jangan coba untuk memperbaikinya. Jika Anda menerima jawaban "tidak", jangan berasumsi bahwa itu karena kekurangan-kekurangan Anda. (Tapi jika Anda menduga memang itu penyebabnya, saya rasa tidak akan terasa menyakitkan jika Anda menanyakan kepada teman-teman Anda sendiri). Ada terlalu banyak kemungkinan penyebab dalam keputusan seorang wanita untuk berkata "tidak" yang sukar ditebak.

Dia mungkin saja penggemar favorit Anda dan masih tidak merasa tertarik secara romantis pada Anda. Dia mungkin tidak merasa damai sejahtera dengan hubungannya dengan Anda. Kondisi dia saat ini mungkin membuat dia merasa tidak siap untuk dekat dengan seseorang. Pikirkan bahwa aspek-aspek unik dari diri Anda yang tidak membuat dia tertarik mungkin saja adalah hal-hal yang disukai oleh pasangan masa depan Anda. Daripada menghabiskan energi untuk berpikir secara berlebihan tentang apa yang salah pada diri Anda, kembangkan diri Anda dalam hal yang mendasar ini: Tunduklah pada Tuhan (Yakobus 4:7), lalu percayalah bahwa Dia melakukan bagianNya.

Jadilah seorang teman.



Memang tidak bijaksana untuk mempertahankan ikatan emosional dengan seorang wanita, tapi melanjutkan pertemanan yang sehat dengannya adalah hal yang menguntungkan. Teman saya Hannah telah menjelaskan pada John bahwa dia tidak tertarik secara romantis kepadanya setelah John menyatakan niatnya untuk mengenal Hannah lebih dalam. John tetap menjadi temannya, berolahraga bersama dalam kelompok dan juga membantu merencanakan pesta ulang tahun untuk Hannah. Hannah tidak berpikir tentang apapun, tapi seiring dengan John yang terus berdoa untuk ketertarikannya pada Hannah, John merasa Tuhan menyuruhnya untuk menunggu. Beberapa tahun setelah usahanya mendekati Hannah, John mendekati Hannah untuk yang kedua kalinya. Dia mengetahui bahwa hati Hannah telah berubah, dan sekarang mereka telah menikah. Walaupun pengalaman seperti John bukan pengalaman yang banyak terjadi, tapi tidak seorangpun yang bisa mengesampingkan pimpinan Roh Kudus dalam area ini.

Carolyn McCulley pernah menulis: Sementara kita para wanita melatih iman kita pada Tuhan dengan menunggu inisiatif dari pria, para pria melatih iman mereka dengan resiko untuk ditolak. Karena itu, saya selalu mendorong saudara-saudara laki-laki saya untuk menjadi maskulin dan tidak pasif, untuk lebih memperhatikan tindakan dan motivasi mereka dibanding respon dari usaha pendekatan mereka. Betapapun romantisnya suasana kafe atau betapapun sempurna kata-kata yang Anda ucapkan, terkadang jawabannya "tidak" (dan bahkan beberapa di antaranya bersifat permanen). Tapi itu tidak menentukan akhirnya. Itu mungkin saja merupakan persiapan untuk wanita selanjutnya yang akan Anda dekati, dan wanita itu mungkin saja berkata "ya".


SUMBER : JAWABAN.COM


3 KESALAHAN DALAM ROMANTISME

Dalam pendapat saya, ada 3 kesalahan terbesar dalam romantisme yang banyak dipercayai oleh orang-orang Kristen yang ingin menikah. Tapi sebenarnya, kesalahan yang paling besar yang bisa kita buat adalah berpikir bahwa dengan menjadi Kristen maka segala hal akan lebih mudah. Padahal menjadi Kristen dapat membuat semuanya lebih sulit (ingatkah tentang memikul salib dan mengikuti Yesus)? Dari pengalaman hidup saya dalam hal memahami tentang lawan jenis dan hubungan romantis, saya melihat (dan juga pernah mengalami beberapa di antaranya) beberapa kesalahan, dan kadang kesalahan-kesalahan itu dilakukan oleh mereka yang mempunyai niat baik. Jadi, apa saja 3 kesalahan itu?

Daftar Kriteria
Ini adalah kesalahan yang paling menyesatkan karena sepertinya ini adalah ide yang sangat bagus. Anda mencoba merumuskan hal-hal apa saja yang harus ada dalam diri pasangan Anda dan hal-hal apa saja yang tidak bisa Anda terima. Anda melihat pasangan yang bahagia, mencatat apa saja yang membuat mereka bahagia, dan mereka-reka bagaimana untuk mempraktekkan hal-hal itu dalam kondisi Anda. Anda membayangkan bagaimana "sempurna"nya seseorang (yang akan menjadi pasangan Anda) ini.

Bahkan walaupun Anda mau berkompromi pada beberapa hal, warna rambut atau kesukaan menonton film misalnya, ada beberapa standar yang tidak bisa dikompromikan. Iman tentu saja, lalu diikuti dengan keseimbangan dalam hal kepandaian, kedewasaan, kepekaan, ketertarikan dalam komitmen pernikahan dan anak-anak, dan sebagainya. Mungkin ada beberapa detail yang spesifik bagi Anda. Saya misalnya, gampang terpikat pada orang yang sangat humoris dan sulit menerima orang yang tidak suka masakan Thai (ya saya tahu, saya pemilih). Jadi Anda berhasil mereka-reka bayangan dari pasangan impian Anda. Lalu salah satu dari kedua hal ini akan terjadi...

Kemungkinan pertama, Anda tidak pernah bertemu dengan orang yang memenuhi semua daftar kriteria Anda karena daftar itu sangat eksklusif dan penuh tuntutan, jadi Anda cenderung menolak atau tidak menanggapi seorangpun untuk alasan-alasan yang bodoh. Daftar kriteria Anda mencegah Anda mengalami kejadian tak terduga dimana Anda tertantang oleh seseorang yang mempunyai perspektif yang berbeda dengan Anda dalam memandang hidup, dunia, Tuhan, serta semua hal yang baik. Saya cenderung berpikir bahwa orang yang membuat daftar yang sangat eksklusif mungkin belum siap untuk menjalin hubungan. Namun dalam batas yang wajar, daftar kriteria dapat menolong untuk melindungi hati Anda dan membantu Anda memutuskan saat seseorang yang menarik mendekati Anda.

Kemungkinan kedua, yaitu jika Anda bertemu dengan seseorang yang benar-benar memenuhi seluruh daftar kriteria. Ini adalah pengalaman pribadi saya. Waktu kuliah saya bertemu dengan seorang pria yang saya pikir pasangan hidup saya, karena dia benar-benar cocok dengan semua daftar kriteria saya dengan sempurna, mulai dari iman, kepandaian, kelucuan, bahkan dia juga menyukai makanan-makanan "aneh" seperti saya. Saya kira saya juga memenuhi semua daftar kriterianya. Jadi kami mulai berkencan. Masalahnya adalah kami tidak benar-benar mengenal satu sama lain, kami hanya mengenali bahwa masing-masing kami telah memenuhi daftar kriteria.

Dalam hal ini, daftar kriteria mencegah kami mengenal satu sama lain untuk sementara, karena kami berdua sama-sama berasumsi kami sudah mengetahui apa yang perlu kami tahu. Lalu waktu berjalan, dan hanya butuh beberapa bulan sebelum sesuatu terjadi. Kami menemukan bahwa kepribadian dan temperamen kami tidak cocok satu sama lain, paling tidak selama kami berkencan. Pada akhirnya kami putus dengan tidak baik-baik, butuh 2 tahun bagi saya untuk memulihkan diri dan 2 tahun lagi sebelum kami berdua bisa berteman. Jangan salah paham, adalah hal yang baik jika Anda mempunyai beberapa standar tentang apa yang Anda inginkan dalam diri pasangan hidup Anda. Tapi adalah hal yang buruk jika Anda begitu terobsesi dengan bayangan semu. Bayangan semu mungkin tidak pernah menyakiti Anda, tapi dia juga tidak pernah mencintai Anda juga.

Prinsip Reformasi
Saya seringkali melihat masalah ini banyak dialami oleh wanita. Sebuah keyakinan bahwa kekuatan cinta dapat memindahkan dan mengubah seorang pria dari sisi gelap dosa kepada terang kebenaran. Kadang saya heran mengapa kebanyakan wanita yang saya kenal seperti terprogram untuk tertarik kepada tipe pria yang salah. Mungkin itu hanya ketidakdewasaan yang menganggap bahwa bahaya itu menarik, baik secara fisik maupun emosional. Mereka tertarik dengan pria yang bahkan tidak peduli dengan mereka, atau memanfaatkan mereka untuk hal-hal tertentu, atau yang tetap menjaga sikap "bersahabat" dengan mereka sementara melakukan hal-hal buruk di belakang mereka.

Saya juga pernah melakukan kesalahan ini. Setelah pulih dari sindrom "daftar kriteria", saya memutuskan untuk melakukan yang sebaliknya dan menemukan seorang pria yang benar-benar berbeda dari pria yang saya cari. Saya berpikir saya tidak akan berkomitmen terlalu cepat dan bisa belajar mengenal serta menyayangi seseorang yang benar-benar berbeda dengan saya. Dia "sempurna", dan mempunyai masa lalu yang buruk (maksud saya benar-benar buruk), dan dia sudah berhenti melakukan hampir semua dari masa lalunya itu, tapi dia masih berusaha menemukan pegangan yang baru, dan saya ingin menolongnya. Oh iya, dia baru saja putus dengan pacarnya (mereka sudah berhubungan selama 5 tahun) kira-kira 2 minggu sebelumnya. Anda tahu, kita seringkali tidak melihat "lampu merah" seperti ini jika kita sendiri yang mengalaminya.

Saya tetap setia karena saya yakin dia membutuhkan saya untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Tapi jika saya tidak salah ingat kronologisnya, setelah sekitar 6 minggu kami berkencan, kami putus, beberapa bulan saya menderita saat dia kembali berkencan dengan mantannya, lalu dia juga sempat mengajak saya kembali bersamanya setelah menyadari bahwa dia dan mantannya tidak akan berlanjut juga, kami sempat berkencan lagi selama 2 minggu, lalu putus lagi, dan beberapa bulan berpisah... sampai akhirnya berlawanan dengan perkataannya yang menyiratkan bahwa ada masa depan bagi hubungan kami, saya mendengar bahwa dia juga sedang terlibat secara intim dengan wanita lain. Itu sudah cukup bagi saya. Jika Anda mengenali diri Anda sendiri sedang mengalami gejala-gejala ini, jangan hiraukan kelebihan atau keunikan apapun darinya yang membuat Anda tertarik. Percayalah, mantan saya juga mengagumkan. Tapi dalam skenario ini, Anda tetap bisa menjadi temannya saja dan masih mengalami keunikannya itu, Anda tidak perlu sampai berkencan dengannya.

Anda lihat, mengubah orang lain adalah ide yang buruk karena Anda tidak punya kuasa untuk melakukannya. Anda bisa mengharapkan pasangan Anda menginginkan dirinya berubah menjadi lebih baik, dan Anda juga bisa berharap bahwa kasih karunia Tuhan dan iman Anda bisa mengubah mereka. Tapi tugas Anda sebagai teman bukanlah untuk mengubah mereka. Anda seharusnya berjalan (melalui saat senang dan sedih) bersama mereka, berdoa untuk mereka, tapi bukan mengubah mereka. Apalagi dalam membuat komitmen jangka panjang yang membutuhkan hubungan yang dekat untuk waktu yang lama, penggabungan rekening bank, dan anak-anak, Anda menginginkan seseorang yang dapat Anda terima apa adanya, termasuk semua dosa dan kegagalannya. Jangan takut bahwa orang yang dapat saling melengkapi dengan Anda dan dapat menyesuaikan diri dengan Anda akan membuat Anda bosan. Malah sebaliknya, saya menemukan bahwa rasa aman dalam hubungan romantis lebih menarik dibanding bahaya.

Terlalu Terfokus Pada "Kita"
Inilah kesalahan yang bersifat manipulatif. Ini memang bukan pengalaman pribadi saya, namun ada teman saya yang mengalaminya. Dia terjebak dengan fokus pada "kita", walaupun dia dan pacarnya adalah orang Kristen yang sama-sama takut akan Tuhan. Jadi menurut saya masalah ini juga penting untuk dibahas. Dengan kata lain Anda terlalu terfokus pada "kita" jika Anda lebih mementingkan hubungan dibanding orang-orang (Anda dan dia) yang terlibat di dalamnya. Biasanya ini dilakukan oleh orang-orang yang memandang hubungan dengan sangat serius, misalnya orang-orang yang sudah sangat ingin menikah. Mereka sudah melatih diri dalam segala kebaikan, pengertian, dan komunikasi. Mereka mau memaafkan dan mencoba lagi. Mereka senang karena mereka berpikir inilah yang terakhir. Dan dalam prosesnya, mereka lupa bahwa mereka seharusnya mengasihi seseorang, bukan sesuatu. Ini juga bisa disebut "jatuh cinta dengan cinta".

Saya mempunyai 2 orang teman. Mereka bertemu, saling menyukai, dan mulai berkomunikasi lewat email secara intens karena mereka berhubungan jarak jauh. Dan dengan cepat, mereka mulai membicarakan tentang pernikahan. Ini memang bukan hal yang buruk, tapi hasilnya, mereka belajar, menganalisa, dan mendiskusikan tentang hubungan mereka untuk menentukan keberhasilan pernikahan mereka. Dan sementara itu mereka gagal untuk mengenal lebih dalam satu sama lain dengan alamiah, dimana (menurut saya) niat untuk menikah dengan sendirinya akan muncul dari sana. Setelah beberapa lama, teman saya menyadari bahwa pacarnya tidak mengenalnya dengan baik sama sekali. Teman saya juga mengetahui bahwa teman-teman pacarnya ini lebih tua dan mereka semua sudah menikah atau akan menikah, jadi pacarnya merasa sedikit tertinggal. Pada akhirnya, teman saya bersikap bijak dengan melihat bahwa hubungan mereka memang merupakan hubungan yang semu dan membuat pacarnya menyadari hal yang sama. Dengan itu hubungan mereka berakhir.

Anda berhak untuk mengalami hubungan romantisme yang lebih baik, dan Anda masih punya kesempatan untuk menghindari atau tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama.


SUMBER : WWW.JAWABAN.COM